Perangkap Struktur

  1. I. PERANGKAP STRUKTUR

Perangkap struktur merupakan perangkap yang paling orisinil dan sampai dewasa ini merupakan perangkap yang paling penting. Jelas disini berbagai unsure perangkap yang membentuk lapisan penyekat dan lapisan reservoir sehingga dapat menangkap minyak, disebabkan karena gejala tektonik atau struktur, misalnya perlipatan dan pematahan. Sebetulnya kedua unsur ini merupakan unsur utama dalam pembentukan perangkap.

I.1 PERANGKAP LIPATAN (PETA STRUKTUR BERKONTUR PENGERTIAN TUTUPAN)

Perangkap yang disebabkan oleh perlipatan ini merupakan perangkap utama, perangkap yang paling penting dan merupakan perangkap yang pertama kali dikenal dalam pengusahaan minyak bumi. Unsur yang mempengaruhi pembentukan perangkap ini ialah lapisan penyekat dan penutup yang berada diatasnya dan dibentuk sedemikian rupa sehingga minyak tidak bisa lari ke mana – mana, (Gambar 5.2). Minyak tidak bisa lari ke atas karena terhalang oleh lapisan penyekat, juga kepinggir terhalang oleh lapisan penyekat yang melengkung ke daerah pinggir, sedangkan ke bawah terhalang oleh adanya batas air minyak atau bidang ekipotensial. Namun harus diperhatikan pula bahwa perangkap ini harus ditinjau dari segi 3 dimensi, jadi bukan saja ke barat dan timur, tetapi juga ke arah utara – selatan harus terhalang oleh lapisan penyekat.

PETA STRUKTUR BERKONTUR: Cara menggambar keadaan yang demikian itu, selain dengan penampang juga harus dinyatakan dalam 3 dimensi antara lain dengan adanya suatu denah yang memperlihatkan lengkungan daripada bidang perlapisan tadi. Cara pengutaraan demikian disebut cara system kontur struktur. Sebetulnya kontur struktur ini diperlihatkan oleh garis – garis kontur yang tidak lain merupakan garis – garis batas lapisan penyekat dengan lapisan reservoir yang mewakilinya pada ketinggian yang sama. Apabila kita bayangkan sekarang suatu antiklin sebagai suatu mangkok yang memanjang dan tertelungkup dan pada beberapa kedalaman tertentu dipotong oleh bidang horizontal (Gambar 5.3). Misalnya pada setiap interval 5 atau 100 meter, terdapat bidang – bidang horizontal yang memotong bidang mangkok atau bidang lengkung daripada antiklin itu. Garis potong yang terjadi biasanya berbentuk garis lengkung yang tertutup. Untuk suatu bentuk bola, garis potong berbentuk lingkaran. Dengan memproyeksikan semua garis ini pada bidang horizontal yang terdapat pada bagian atasnya, kita mendapatkan garis – garis kontur, yang secara jelas memperlihatkan penutupan lapisan reservoir dari berbagai arah. Makin di luar kedudukan bentuk ini, makin rendahlah kedudukan lapisan penyekat. Jelas disini,  bahwa untuk terdapatnya suatu perangkap bukan semata – mata struktur antiklin saja yang diperlukan tetapi juga bentuk lapisan penyekat yang sedemikian rupa (misalnya disebabkan karena struktur) sehingga karena pelengkungan ataupun karena patahan atau gejala struktur lainnya penutupan penyekat lapisan reservoir terjadi dari semua arah kecuali dari bawah.

Pengertian Tutupan (closure)

Batas bawah suatu akumulasi minyak ditentukan oleh batas air-minyak yang disebut bidang ekipotensial. Dalam keadaan hidrostatik bidang ekipotensial horizontal. Jadi, titik tertinggi dimana bidang horizontal menyinggung, lapisan penyekat merupakan bidang batas maksimal dari air-minyak, karena jika batas ini lebih rendah, minyak akan keluar dari perangkap. Dengan demikian, juga sebagaimana wadah suatu cairan pada permukaan bumi, maka suatu perangkap mempunyai titik limpah, dan batas maksimal wadah dapat diisi oleh oleh cairan tersebut ‘tutupan’ (closure). Tutupan ini ditentukan oleh adanya titik limpah (spill-point). Titik limpah adalah suatu titik pada perangkap dimana kalau minyak bertambah, minyak mulai melimpah kebagian lainnya yang lebih tinggi dari kedudukannya dalam perangkap ini. Gambar 5.4 memperlihatkan hubungan titik limpah dengan batas maksimal perangkap itu dapat diisi minyak. Batas maksimal ini yang secara areal diperlihatkan dalam peta struktur disebut tutupan areal (areal closure), sedangkan tinggi kolom minyak yang maksimal disebut tutupan vertical (vertical closure). Dalam mengevaluasi suatu perangkap minyak, tutupan ini sangat penting karena menentukan besar kecilnya cadangan yang mungkin di dapatkan dalam suatu perangkap. Jadi jelaslah, bahwa yang dimaksud dengan ‘closure’ ini bukan semata – mata batas air – minyak  atau batas minyak, tetapi batas maksimal dimana minyak dapat menempati perangkap. Dengan demikian, terdapatnya berbagai macam jenis lipatan tidaklah menjadi soal yang penting perangkap harus tertutup dari segala arah. Gambar 5.5 dan 5.6 memperlihatkan berbagai macam contoh perangkap lipatan, terutama antiklin.

Disini terlihat berbagai macam bentuk perangkap, yaitu : memanjang, melengkung asimetris, simetris, pendek, dan sebagainya. Ditinjau dari segi peristilahan, maka lipatan yang tertutup dan melengkung dari segala arah ini disebut juga suatu antiklin yang menunjam – ganda (double plunging).

Jika antiklin ini menunjam ganda dan sumbu panjangya dibandingkan terhadap sumbu pendeknya lebih besar daripada 2/3, maka bentuk lipatan yang demikian disebut kubah (dome).

Jika antiklin mempunyai perbandingan sumbu panjang terhadap sumbu pendeknya di antara 2/3 dan 1/3, maka perlipatan ini disebut suatu branchi – antiklin, jika kurang dari 1 : 3 disebut suatu struktur antiklin. Perangkap lipatan didapatkan dalam berbagai jenis, tetapi sering kali merupakan rangkaian antiklin yang mengikuti suatu arah sumbu tertentu. Maka seringkali di atas rangkaian antiklin ini terdapat tutupan tersendiri yang dinamakan ‘kulminasi’ daripada antiklin. Kulminasi inilah yang merupakan perangkapnya dan bukan antiklinnya sendiri. Contoh daripada kulminasi diatas suatu sumbu antiklin adalah antiklin Ledok-Wonocolo-Kidangan. Lapangan minyak itu semuanya terdapat diatas suatu antiklin tetapi merupakan kulminasi sendiri (Gambar 5.7). Terdapatnya suatu antiklin dalam arah (trend) tertentu merupakan hal yang biasa sekali. Di lain pihak sering antiklin tidak panjang tetapi bersifat seperti kubah yang penempatannya tidak beraturan. Tetapi sering pula kubah ini berada sepanjang sumbu antiklin yang lebih memanjang.

PENILAIAN SUATU PERANGKAP LIPATAN

Persoalan yang dihadapi dalam mengevaluasi suatu perangkap lipatan terutama ialah mengenai ada tidaknya tutupan, jadi tidak dipersoalkan apakah lipatan itu ketat atau landai, yang penting adalah adanya tutupan.

Suatu lipatan dapat saja terbentuk tanpa terjadinya suatu tutupan sehingga tidak dapat disebut suatu perangkap. Selain itu juga ada tidaknya tutupan sangat tergantung pada faktor struktur dan posisinya ke dalam. Misalnya, pada permukaan dapat saja kita dapat mendapatkan suatu tutupan tetapi makin ke dalam, tutupan itu menghilang. Menurut Levorsen (1958) menghilangnya tutupan ini disebabkan factor bentuk lipatan serta pengaruhnya ke dalam, antara lain;

1) Bentuk lipatan, yaitu apakah lipatan sejajar atau sebangun. Dalam hal lipatan sejajar atau konsentrik, maka lipatan makin ke dalam makin menghilang atau makin kecil tutupannya dan kadang – kadang menghilang sama sekali. Dilain pihak apabila lapisan terlipat sedang, maka makin ke dalam akan lebih baik (Gambar 5.8).

2) Perlipatan bersifat diaper atau tidak selaras, yaitu cara perlipatan diatas, dan di bawah suatu lapisan tertentu yang tidak sama. Hal ini disebabkan karena pengaruh adanya berbagai lapisan yang tidak  kompeten. Lapisan biasa saja terlihat bagus sekali menjadi antiklin dengan tutupan, tetapi bisa bisa pula terdapat suatu lapisan yang tidak kompoten yang dibawahnya ternyata tidak terdapat suatu lapisan yang tidak kompoten yang dibawahnya ternyata tidak terdapat perlipatan sama sekali, atau telah berubah menjadi suatu bentuk diapir. Sebagai contoh misalnya, lapangan Kirkuk, Irak (Gambar5.9).

3) Perlipatan berulang, yaitu perlipatan yang terjadi secara berulang – ulang pada waktu berlangsungnya sedimentasi. Jadi, dari atas bisa kelihatan suatu lipatan yang landai yang memperlihatkan tutupan pada permukaan, tetapi makin ke bawah berubah atau menjadi lebih ketat serta tidak memperlihatkan tutupan (Gambar 5.10)

4) Ketidakserasan, jelas mempunyai efek yang penting. Suatu lipatan yang ada di atas suatu ketidakselarasan mungkin saja tidak terdapat di bawahnya, karena struktur yang ada di atas dan di bawah tentu akan berlainan (Gambar 5.11)

5) Lipatan asimetris, memberikan bidang sumbu yang miring, sehingga menentukan pula lokasi dari pada tutupan atau kulminasi. Maka dalam mengevaluasi suatu lipatan yang asimetris ada kalanya kulminasi pada permukaan itu telah bergeser ke arah miringnya bidang sumbu kelipatan (Gambar 5.12)

6) Konvergensi lapisan, yaitu menipisnya lapisan ke suatu arah. Karena pengaruh penipisan perlapisan ke suatu arah, maka adanya suatu tutupan pada permukaan dapat saja menghilang pada kedalaman dimana lapisan reservoir terdapat (Gambar 5.13)

Dalam mengevaluasi suatu tutupan, kita harus yakin apakah semua lapisan itu berkonvergensi atau tidak.

Dalam mengevaluasi perlipatan sebagai perangkap selain dari adanya tutupan juga harus dievaluasi apakah tutupan tersebut terdapat pada lapisan reservoir. Jika kita menemukan berbagai macam lapisan reservoir pada berbagai kedudukan stratigrafi, maka tutupan yang terdapat pada suatu lapisan reservoir belum tentu terdapat pada lapisan yang berada di bawahnya atau di atasnya. Dalam menilai prospek – prospek yang terdapat pada berbagai macam lapisan reservoir menyebabkan keharusan dievaluasi pula tutupan untuk setiap lapisan reservoir. Misalnya diadakan pemetaan kontur struktur pada bagian atas lapisan reservoir tertentu, maka peta ini hanya berlaku untuk satu perangkap dan tidak bisa dipakai untuk mengevaluasikan semua perangkap yang ada pada berbagai lapisan reservoir. Hal ini dapat diatasi dengan membuat berbagai penampang seismic serta memetakan kontur struktur untuk tiap lapisan reservoir. Tetapi dalam prakteknya tentu tidak semua lapisan reservoir dapat dikontur, misalnya tidak terdapat lapisan penunjuk yang jelas. Walaupun demikian dengan memperhatikan berbagai factor diatas tadi, maka dalam mempelajari penampang seismic serta mengevaluasi setiap lapisan reservoir harus diperhatikan beberapa pengaruh faktor tersebut betul – betul terdapat beberapa unsure perangkap serta tutupan ataukah tidak.

I.2 PERANGKAP PATAHAN

Patahan dapat juga bertindak sebagai unsure penyekat minyak dalam penyaluran penggerakan minyak selanjutnya. Kadang – kadang dipersoalkan pula apakah patahan itu bersifat penyekat atau penyalur. Dalam hal ini Smith (1966) berpendapat bahwa persoalan patahan sebagai penyekat sebetulnya tergantung dari tekanan kapiler. Pengkajian teoritis memperlihatkan bahwa patahan dalam batuan yang basah air tergantung pada tekanan kapiler dari medium dalam jalur patahan tersebut. Besar kecilnya tekanan yang disebabkan karena pelampungan minyak atau kolom minyak terhadap besarnya tekanan kapiler menentukan sekali apakah patahan itu bertindak sebagai penyalur atau penyekat. Jika tekanan tersebut lebih besar daripada tekanan kapiler maka minyak masih, dapat tersalurkan melalui patahan, tetapi jika lebih kecil maka patahan tersebut akan bertindak sebagai suatu penyekat.

Patahan yang berdiri sendiri tidaklah dapat membentuk suatu perangkap. Ada beberapa unsur lain yang harus dipenuhi untuk terjadinya suatu perangkap yang betul – betul hanya disebabkan karena patahan :

1) Adanya kemiringan wilayah, lapisan yang tidak miring atau sama sekali sejajar tidak dapat membentuk perangkap, karena walaupun minyak tersekat dalam arah pematahan  tetapi dalam arah lain tidak ada penyekatan kecuali kalau ketiga pihak lainnya tertutup oleh berbagai macam  patahan. Dalam hal yang disebut akhir ini sukar sekali dapat dibayangkan bagaimana minyak itu masuk kedalam perangkap tersebut.

2) Harus ada paling sedikit dua patahan yang berpotongan, jika hanya terdapat satu kemiringa wilayah dan suatu patahan di suatu pihak, maka dalam suatu penampang mungkin kelihatannya sudah terjadi suatu perangkap. Tetapi harus dipenuhi pula syarat bahwa perangkap atau penutupan itu harus juga terjadi pematahan untuk menutup ke arah tersebut. (Gambar 5.14)

3) Adanya suatu pelengkungan lapisan atau suatu perlipatan. Dalam hal ini patahan merupakan suatu unsur penyekat dalam satu arah, sedangkan arah lainnya tertutup oleh adanya pelengkungan dari perlapisan ataupun bagian daripada pelipatan. (Gambar 5.15)

4) Pelengkungan daripada patahannya sendiri dan kemiringan wilayah. Dalam hal ini di suatu arah mungkin lapisan itu miring, tetapi di pihak lainnya justru terdapat patahan yang melengkung sehingga semua arah tertutup oleh patahan dan kemiringan wilayah. (Gambar 5.16)

Dalam prakteknya jarang sekali perangkap patahan yang murni. Patahan biasanya hanya merupakan suatu pelengkungan daripada suatu perangkap struktur. Yang lebih banyak terjadi ialah asosiasi dengan lipatan, seperti misalnya di satu arah terdapat suatu pelengkungan atau hidung antiklin, dan di arah lainnya terdapat patahan yang menyekat perangkap dari arah lain. Dalam hal ini patahan pada perangkap dapat dibagi atas tiga macam.

1.2.1     Patahan Normal

Patahan normal biasa sekali terjadi sebagai suatu unsure perangkap. Biasanya minyak lebih sering terdapat di dalam ‘hanging wall’ daripada di dalam ‘foot wall’, terutama dalam kombinasi dengan adanya lipatan. Contoh patahan normal sebagai unsur pelengkap suatu perangkap dari lapangan minyak di Laut Jawa adalah lapangan minyak Arjuna, Cinta.

Juga lapangan minyak di Mangun-Jaya dan Tanjung tiga merupakan contoh lain (Gambar 5.17).

Jadi, perlipatan lemah atau pelengkungan lapisan dilengkapi oleh suatu patahan  normal.

1.2.2     Patahan Naik

Patahan naik juga dapat bertindak sebagai suatu unsure perangkap dan biasanya selalu berasosiasi dengan lipatan yang ketat ataupun asimetris. Patahan naik itu dapat dibagi lagi dalam asosiasi :

1) Patahan naik dengan lipatan asimetri. Sebagai contoh misalnya, Lapangan minyak Talang Akar pendopo di Sumatera Selatan. Di satu pihak terdapat lipatan dan di pihak lain terdapat patahan naik. Juga kampung minyak di Sumatera Selatan memperlihatkan sesar naik yang hamper mendatar sebagai suatu patahan perangkap. Tepat dikatakan disini bahwa perangkap dapat terbentuk di bawah patahan tersebut ataupun di atasnya, tetapi terutama di bawahnya.

2) Patahan naik yang membentuk suatu sesar sungkup atau suatu ‘Nappe’. Misalnya, di Canada sebelah Barat di Lapangan Turner Valley. Di sini sesar sungkup merupakan suatu unsur penting untuk terdapatnya suatu perangkap (Gambar 5.18).

1.2.3     Patahan Tumbuh

Dewasa ini dikenal semacam patahan yang dinamakan patahan tumbuh, yaitu suatu patahan normal yang terjadi secara bersamaan dengan akumulasi sedimen. Di satu pihak (foot wall) sedimen tetap tipis sedangkan di ‘hanging wall’ selain terjadinya penurunan, sedimentasi berlangsung terus sehingga dengan demikian terjadi suatu lapisan yang sangat tebal. Seringkali patahan tumbuh ini menyebabkan adanya suatu ‘roll over’ sehingga juga disini kita lihat suatu kombinasi antara perlipatan yang memperlihatkan tutupan dan di pihak lain suatu patahan. Suatu ‘roll over’ dalam patahan tumbuh sangat penting, karena asosiasinya dengan terdapatnya minyak bumi.

Struktur ‘roll over’ ini terutama di dapatkan di daerah Gulfcoast. Jadi, perangkap ini merupakan kombinasi antara patahan dan perlipatan, disini perlipatan disebabkan karena pematahan. Sering patahan tumbuh ini ke bawah menghilang atau kemudian membelok menjadi patahan yang sejajar dengan suatu perlapisan (Gambar 5.19).

1.2.4     Patahan Transversal

Patahan transversal/horizontal atau disebut pula wrench-faults atau strike – slip fault dapat juga bertindak sebagai perangkap. Harding (1974, hal. 1920-1304), menekankan pentingnya unsure patahan transversal sebagai pelengkap perangkap struktur. Pada umumya perangkap patahan transversal merupakan pemancungan oleh penggeseran patahan terhadap kulminasi setengah lipatan dan pelengkungan struktur pada bagian penunjaman yang terbuka. Harding (1974) memberikan beberapa contoh yang bersifat penggeseran kecil, yaitu Scipio-Albion di Michigan dan Sussex-Meadow Creek di cekungan Powder River, Wyoming, Amerika Serikat; penggeseran menengah, misalnya, di Cekungan Los Angeles; dan penggeseran besar, misalnya, sepanjang patahan San Andreas di Kalifornia dan beberapa lapangan minyak di ‘Sumatera’ di mana kedudukan en echelon dari perangkap antiklin ditafsirkan berasosiase dengan sesar Sumatera. Dalam ketiga hal ini ternyata komponen naik masih memegang peranan. Mercosono (1975) membahas Lapangan Minyak Pungut dan Tandun di Sumatera Tengah sebagai contoh untuk perangkap patahan transversal (Gambar 5.20). Di sini pula ternyata komponen gerakan vertical yang merupakan patahan naik di Lapangan Tandun dan patahan normal di lapangan Pungut masih memegang peranan penting (Gambar 5.21)

1.2.5  Perangkap Kubah Garam

Kubah garam merupakan salah satu perangkap yang penting untuk akumulasi minyakbumi. Kubah garam merupakan semacam suatu perlipatan bersifat diaper. Suatu lapisan garam yang terdapat pada kedalaman tertentu, karena sifat garam yang plastis dan juga karena berat jenis yang rendah sering menusuk ke dalam sedimen yang berada di atasnya dan membentuk semacam suatu tiang atau suatu pilar dan menyundul sedimen yang ada di atasnya sehingga berbentuk suatu kubah. Beberapa lapisan yang tertusuk biasanya ikut terangkat dan seolah – olah ‘membaji’ terhadap kolom garam ini dan sering merupakan suatu jebakan minyak yang baik. Di sini sulit untuk disebut sebagai suatu perangkap patahan, tetapi sangat khas sebagai perangkap kubah garam. Seringkali kubah garam itu ke atas  mengembang berbentuk seperti jamur dan di dapatkan perlapisan pasir yang membetuk perangkap itu berada di bawah naungan ‘payung’ garam tersebut. (Gambar 1.24)

Selain itu, juga di atas kubah tesebut perlapisan pasir dapat membentuk kubah yang seolah – olah terlipat dan membentuk suatu kubah yang bundar. Sering pula terjadi pematahan normal yang radier sehingga membagi kubah itu dalam beberapa segmen. Di atas lapisan garam itu seringkali terjadi lapisan gips, dank arena aktivitas bakteri ini diuraikan menjadi kalsium karbonat (batugamping) dan belerang sehingga sering merupaka suatu tambang belerang. Istilah ‘cap rock’ berasal dari perangkap kubah garam yang sebetulnya ialah gamping yang menutupi kubah garam ini.

1.2.5     Tektonik dan Penjebakan Minyak

Dewasa ini dipersoalkan mengenai apakah perlipatan itu terbentuk karena gaya tangensial atau gaya vertikal. Dengan konsep tektonik lempeng dewasa ini, maka pada pinggiran pertemuan dua lempeng (misalnya lempeng samudera dan lempeng benua) terjadi berbagai gaya kompresi yang menyebabkan terjadinya perlipatan yang ketat sekali. Namun dalam cekungan sedimen, pelipatan yang ketat ini tidaklah terlalu baik untuk terjebaknya minyak karena struktur menjadi terlalu ruwet. Minyak bumi lebih banyak terjebak dalam struktur perlipatan yang sangat landai, dan seringkali perlipatan ini berasosiasi dengan patahan normal. Hal ini terbukti di Laut Jawa, di utara Jawa Barat dimana lipatan itu berhunbungan dengan patahan yang terdapat menerus ke dalam dasar cekungan. Juga dewasa ini timbul suatu konsepsi mengenai terbentuknya lipatan karena gaya vertical, yaitu pematahan dalam batuan dasar menyebabkan gerakan turun naik daripada balok – balok atau bongkah – bongkah patahan ini, sehingga menyebabkan perlipatan diatasnya. Perlipatan ini sering berhubungan dengan perlipatan patahan tumbuh sebagaimana telah diutarakan sebelumnya. Juga dengan system ini lipatan yang didapatkan sering merupakan lipatan yang sangat landai, tetapi juga dapat berkembang membentuk sesar naik. Dalam tektonik patahan bongkah ini (block – faulting) seringkali bentuk antiklin lebih menyerupai suatu kubah daripada antiklin yang memanjang. Tetapi ada kalanya juga semua bentuk ini memanjang sepanjang patahan dan dibarengi dengan adanya sesar naik. Sebagai contoh misalnya Talang Akar Pendopo. Di lain pihak jelas pula, bahwa lipatan dapat memperlihatkan adanya patahan yang terus naik ke atas. Patahan ini kebanyakan bersifat patahan tumbuh (growth fault). Sehingga seringkali patahan itu mati sebelum mencapai permukaan. Adanya patahan tumbuh ini terlihat sangat baik di Laut Jawa Utara sebagaimana tampak pada gambar 1.25. Terdapatnya patahan sebagai penyebab pelipatan itu terutama terdapat dalam cekungan sedimen di belakang suatu busur lipatan yang ketat atau yang disebut sebagai cekungan daratan muka (foreland basin) dan juga dalam cekungan penarikan pisahan (pull-apart), misalnya di pantai samudera Atlantik atau mungkin juga di pantai Kalimantan Timur.

Selain itu, sering pula lipatan terjadi bukan semata – mata karena gaya tektonik tetapi karena pembebanan atau kompaksi yang terdapat di atas suatu peninggian batuan dasar (basement high). Lipatan yang demikian disebut ‘supratenous folding’ dan biasanya merupakan tempat tumbuhnya terumbu. Dengan demikian dalam eksplorasi regional batuan dasar itu mendapatkan perhatian khusus. Peninggian batuan dasar itu selain memperlihatkan lipatan juga ada kemungkinan membentuk suatu sumber sedimen yang memungkinkan diendapkannya sedimen kasar disekitarnya. Di lain pihak justru di dalam lapisan sedimen klastik dasar tidak didapatkan basement high, karena tempat terjadinya sedimentasi itu  bukan merupakan daerah sedimentasi tetapi daerah erosi.

Daftar Pustaka : Koesoemadinata, 1980, Geologi Minyak dan Gas Bumi, Jilid 1 Edisi Kedua, ITB Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s